Aku terbangun dari dunia yang tak ingin aku tinggalkan. Perlahan aku baru menyadari kenapa aku tak ingin kembali ke sini lagi. Ke dunia ini lagi. Aku mencoba menutup kembali mataku, kupejamkan erat-erat. Percuma. Aku tidak bisa kembali ke alam mimpi lagi.
Tiba-tiba aku merasakan nyeri di dadaku. Rasanya sesak dan air mata perlahan mengalir di pipiku. Aku tak bisa menahan tangisku. Dan tangis ini semakin menjadi. Aku menangis dan terus menangis entah sudah berapa lama. Waktu seperti alunan kosong yang tak bernada.
Kurasakan belaian lembut di pundakku. Kubuka perlahan mataku, seakan mataku berat menatap kenyataan yang harus aku terima. Mata yang penuh kasih, senyum yang penuh ketegaran, guratan garis yang menunjukkan bahwa waktu telah lama berlalu, satu, dua helai rambut putih menyembul dari rambut hitam yang membingkai wajah penuh kesabaran di hadapanku. Membantuku menghadapi realita kehidupan. Aku menegakkan badanku, dan menangis dipundaknya menumpahkan segala sakit dan amarahku. Tangan yang lembut membelai rambutku. "Bu, kenapa harus terjadi. Kenapa harus aku ?" tanyaku berulang kali setiap pagi selama seminggu ini. Dengan sabar ibu menjawab "sabar sayang, pasti Allah memiliki rencana yang indah"
"Aku gak bakalan bisa nari lagi, bu. Semua pupus. Semua hancur. Semua hilang. Mimpiku hilang bersama kakiku bu" isakku dipundak ibu. "Tidak sayang, kamu masih bisa bermimpi. Masih ada banyak hal yang bisa kamu impikan. Kamu gadis yang hebat" kata ibu menyemangatiku.
"Sekarang kamu mandi dulu ya". Kemudian ibu menggendongku dan mendudukkanku di kursi roda. Tubuhku memang kecil bila dibandingkan gadis seusiaku tapi tetap saja, aku tetap berat untuk kekuatan wanita yang usianya sudah mendekati kepala 5. Perlahan air mataku menetes lagi.
Dengan sabar ibu memandikanku, menggantikan pakaianku dan mendorong kursi rodaku ke ruang makan. Aku hanya menatap ibu menyuapkan sesendok makanan. Bahkan untuk membuka mulut dadaku terasa sesak. "Ayo sayang makan dulu, sedikit saja" bujuk ibu. Kupaksa mulutku untuk membuka dan mengunyah makanan yang pasti sudah disiapkan ibu sejak subuh tadi. Setelah sepuluh suap aku memilih menyerah.
Dengan hati - hati ibu mendudukkan ku di kasur depan tv memberikan remote, serta buku dan pulpen. Ibu sangat tahu aku suka sekali menulis. Setelah rutinitas merawatku, ibu akan pergi bekerja ke toko kue di seberang jalan. Tidak bergaji mahal memang, tapi mampu menopang hidup kami berdua. Sementara bapak telah lama hilang dari hidup kami. Entah beliau pergi kemana. Tapi aku masih menyimpan harap untuk bersua.
Sebelumnya aku bekerja sebagai guru tari di salah satu sanggar di kota ini dan memnjadi guru tari di beberapa Sekolah Menengah Pertama. Aku siswa yang drop out di kelas 2 SMA karena alasan klasik, biaya. Akhirnya untuk menopang hidup , aku bekerja serabutan kesana kemari. Hingga akhirnya, aku bertemu dengan Bu Sulis guruku tari SMP. Beliau simpati melihat keadaanku. Dan beliau mengizinkan aku belajar di sanggar tari miliknya. Di sela-sela pekerjaanku yang melelahkan, aku selalu menyempatkan diri berlatih menari di sanggar beliau. Dari situlah awal karirku menjadi guru tari aku mulai.
Ketika semua mulai normal, sepulang dari mengajar aku terserempet bis kota yang kebut - kebutan mengejar setoran. Aku oleng ke kiri, jalan aspal yang tinggi dari tanah membuatku kehilangan keseimbangan dan akhirnya aku terjatuh ke kanan dan kaki kanan terhimpit badan sepeda motorku, sedangkan kaki kiriku terjebak antara rem dan pijakan kaki, sakit sekali rasanya. Kemudian aku tak sadarkan diri.
Sekarang, aku harus menerima kenyataan yang tak mungkin aku ingkari, kaki tidak akan kembali sempurna lagi. Kupencet - pencet tombol remote yang ada di tanganku. Beralih dari satu chanel ke chanel lainnya. Sampai pada 1 chanel milik stasiun tv lokal yang menampilkan program kesenian daerahku. Di layar kaca kusaksikan dengan gemulai murid-muridku menari. Tak terasa tanganku mengikuti alunan lagu gamelan Jawa yang merdu. Karena terlalu semangat aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di kasur. Sejenak aku merasa hidup dan kini aku kembali harus diseret ke dunia nyata. Air mataku kembali tak tertahankan.
Pukul 12 siang, ibu selalu pulang untuk melihat keadaanku dan membantuku untuk sholat. Sebelumnya aku merasa Allah telah merampas kebahagiaaku dan mimpi - mimpiku. Namun, dengan kesabaran dan kasih sayang ibu, mampu mengembalikan semangatku perlahan. Sekarang aku mulai belajar menerima semua ini.
"Nak, hari ini ibu kerja setengah hari ibu mau ajak kamu jalan-jalan" ajak ibu seusai sholat dzuhur berjamaah. Aku diam saja, hanya menjawab pertanyaan ibu dengan anggukan.
Ibu membawaku ke taman kota. Kami berjalan jalan menikmati indahnya berbagai jenis bunga yang sedang mekar. Di bawah kerindangan pohon tidak jauh dari hadapanku, seorang nenek menggelar dagangannya di atas karung bekas beras. Hanya ada beberapa gelintir buah jeruk dan kacang rebus, makanan yang ia jajakan. Tak seorangpun mau memperhatikan wanita renta di sana, bahkan tak sedikit yang menganggapnya tak ada. Namun semangat di usia senjanya membuatnya tak akan menyerah. Dalam hati aku merasa malu pada diriku sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.43, ibu membawaku pulang. Di perjalanan kami hanya terdiam. Aku sibuk dengan pikiranku tentang wanita tua tadi. Ibu juga tidak mengajakku bicara.
Tak terasa satu bulan telah berlalu. Selama itu pula ibu selalu mengajakku jalan - jalan. Bukan jalan - jalan biasa, tapi jalan - jalan penuh pelajaran. Ibu membawaku melihat dunia dari sisi yang berbeda.
Kini aku tahu maksud ibu. Ia tak hanya mendengungkan arti semangat dan pantang menyerah. Dia menunjukkannya padaku. Menunjukkan arti kehidupan yang sesungguhnya. Sudah satu minggu aku tak meratapi pagiku, selama itu pula aku lebih mandiri, lebih siap dan lebih berani menantang mentari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar