Pages

Rabu, 21 Mei 2014

Memori segelas kopi

   Aku berusaha menghangatkan diri dari segelas kopi dihadapanku. Mencoba melawan hawa dingin bulan Desember. Di luar sana gerimis masih enggan berhenti mengguyur Kota yang terkenal dengan apelnya. Menambah nuansa dingin kota ini. Hal kecil yang selalu membuatku rindu untuk pulang ke kota ini.
   Hari ini sama dengan hari 3 tahun yang lalu. Masih dengan tanggal yang sama dan suasana yang sama. Aku duduk di sebelah jendela yang langsung mengarah ke luar. Aku masih ingat
bagaimana kamu masuk dari pintu lonceng dan tersenyum padaku. Tak peduli hujan yang membasahi jaket merah berlogo klub bola favoritmu. Kamu akan duduk dan memesan segelas kopi lalu menyalakan rokok. Sebuah kebiasaanmu yang sangat aku benci. Berkali kali aku nasihati, berkali kali pula kata kataku hanya mampir ditelingamu.
   "Ada apa kamu nyuruh aku dateng kesini ?"
   Aku masih membisu, mulutku terkunci. Aku hanya menatapmu dengan mata sembap. Aku mencoba berbicara tapi aku takut air mata aku jatuh dipipiku. Aku berusaha menjadi tegar dihadapanmu.
   "What's wrong, are you okay ?" Kata laki laki itu sambil memegang tanganku. Ini membuatku lebih baik.
   "Aku harus pindah. Mungkin kita harus berjuang sendiri-sendiri" akhirnya aku mulai membuka mulut. Membuka permasalahan ini.
   "Tidak, kita tidak perlu berjuang sendiri-sendiri. Kita akan berjuang bersama walau jarak memisahkan kita. Percayalah. Aku akan selalu ada disisimu" kali ini tanganmu menggenggamku lebih erat.
   "Berjanjilah" kali ini aku yang mempererat genggamanku. Aku takut pria dihadapanku ini akan pergi. Seperti mereka yang pergi meninggalkanku.
   Suara lonceng yang menggema mengagetkanku, membuyarkan lamunan masa lalu. Melemparku melalui lorong waktu di otakku ke masa kini. Seorang pria berjaket merah baru saja masuk. Namun aku sadar, dia bukan kamu. Kamu tak akan pernah masuk dari pintu lonceng itu lagi. Kamu tak akan tersenyum padaku lagi. Kamu tak akan menggangguku di tengah malam lagi. Kamu tak akan ada disisiku lagi.
   Dengan berat hati aku beranjak dari kursiku meninggalkan secangkir kopi yang kini telah dingin. "Kenapa kopinya tidak pernah diminum mbak ?" Tanya petugas kasir ketika aku membayar kopi itu. Aku hanya mampu menjawab dengan senyuman.
   Gerimis masih belum beranjak. Kubiarkan tetesan air membasahi bajuku. Aku memilih menikmati gerimis sore ini. Aku berjalan menyusuri jalan menuju stasiun yang tak jauh dari sini. Ingin aku menjawab pertanyaan petugas kasir tadi. Aku tidak suka kopi, aku hanya membeli segelas kehangatan dan memori masa lalu yang tersimpan.
   Aku menghentikan langkahku dan menengadah ke langit kelabu. Aku berharap kamu mengintipku dari surga. Mengawasi setiap gerak gerikku tanpamu. Menghapus air mata yang telah terkubur bersamamu.
   Bisakah kau berada dihatiku walau kau tak bisa berada disisiku lagi. Aku mencintaimu Abraham.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 Pemburu senja. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates