Pages

Minggu, 20 April 2014

Last Hope

  Panas matahari yang begitu terik menyelimuti dunia yang sudah tua. Cahayanya menyengat kulit. Panasnya membakar jiwa - jiwa muda yang semangatnya seterik matahari siang. Melebarkan spanduk - spanduk besar bertuliskan "peduli palestina".
  Ribuan kilometer dari puluhan mahasiswa yang sedang berorasi, seorang anak berpakaian lusuh menatap sebuah bangunan yang telah porak poranda. Menyisakan puing - puing impian yang menyakitkan. Dengan mantap anak lelaki itu berjalan ke arah puing - puing yang dulunya pasti bangunan besar dan kokoh. Tangan kecilnya meraba-raba setiap lekuk bangunan yang sudah tak utuh. Mencoba mengumpulkan setiap memori masa lalu, sebelum bola - bola besi meluluh lantakkan semuanya.
   Selembar kertas yang selamat dari amukan tank tank ganas tertangkap matanya. Setelah mendekat, terlihat jelas itu adalah robekan dari buku bahasa inggris kelas 1. Gambar yang sederhana tapi cukup menggetarkan benang - benang halus di dalam hatinya. Gambar sebuah keluarga yang dibingkai kayu di atas almari coklat.
   Brrrmmmm!!! Deruman dari monster monster besar pembawa perpecahan. Suara dari segala macam kesedihan. Ketika monster itu berjalan bumi bergoyang, seperti tak kuat menahan amukan yang akan terjadi.
   Tanpa berpikir panjang kakinya berlari menuju balik dinding yang setengah hancur. Jantungnya berpacu cepat. Bersembunyi itulah yang harus ia lakukan. Sebenarnya ini adalah kawasan terlarang. Daerah berbahaya untuk mengunjungi masa lalu. Sekarang tak ada tempat untuk pulang. Rumah yang dulu aman melindungi kini menjelma menjadi ladang ranjau yang siap meledak.
  Tubuh kecil itu bergetar hebat. Air mata mengalir perlahan di pipi yang kusam penuh debu. Kedua lengannya memeluk lututnya. Dia berusaha menenggelamkan diri di bangunan yang akan roboh itu. Di dalam hatinya menjerit keras "ayah, ibu tolong aku" , namun ia tahu itu hanya sia sia.
  Desingan peluru meriam melesat menghancurkan tembok yang berdiri kokoh di atas puing yang berserakan menghancurkan impian terakhir. Tubuh kecil itu terhimpit puing - puing beton yang berat. Meneteskan air mata terakhir untuk bumi palestina.
   Anak kecil itu terbang ke awan berkumpul bersama ribuan orang lain yang mendahuluinya. Berkumpul menjadi awan sendu yang menggelayuti bumi palestina. Terbang membawa mimpi dan harapan yang tak tersampaikan. Membawa linangan air mata.
   Di sisi lain, tentara - tentara itu memborbardir tempat yang dilaluinya. Menghancurkan semua yang mereka temui. Tidak peduli dengan bangunan yang hancur, keluarga yang tercerai berai, mimpi yang pupus, harapan yang hilang ditelan debu reruntuhan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 Pemburu senja. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates